KABARIN.ID – Memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah kini menyeret dunia ke ambang ketidakpastian energi. Dua negara dengan profil industri berbeda, Jepang dan Indonesia, menunjukkan kontras tajam dalam menyikapi potensi penutupan Selat Hormuz—urat nadi minyak dunia.
1. Jepang: “Alarm Bahaya” dari PM Sanae Takaichi
Meskipun memiliki cadangan energi yang sanggup bertahan selama 254 hari, Pemerintah Jepang justru berada dalam posisi siaga penuh. Mengutip Mainichi, Perdana Menteri Sanae Takaichi pada 2 Maret menegaskan bahwa pemerintah memantau ketat setiap jengkal pergerakan di Selat Hormuz.
Bagi Jepang, gangguan pada jalur ini bukan sekadar masalah kenaikan harga, melainkan ancaman eksistensial. Sebagai negara yang mengimpor lebih dari 90% energi, angka 254 hari dipandang bukan sebagai zona nyaman, melainkan hitung mundur menuju kolapsnya sistem transportasi, industri, hingga distribusi pangan nasional.
2. Indonesia: Strategi “Cooling Down” ala Bahlil Lahadalia
Berbanding terbalik dengan kekhawatiran Tokyo, Jakarta justru menunjukkan sikap yang jauh lebih tenang. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa cadangan BBM nasional saat ini berada di kisaran 20 hari.
Meski angka ini jauh di bawah ketahanan Jepang, Pemerintah Indonesia optimis bahwa konflik antara Iran, Israel, dan AS belum akan mengganggu stabilitas subsidi energi di dalam negeri dalam waktu dekat.
”Sampai sekarang belum ada masalah berarti,” ujar Bahlil, sembari mengakui bahwa koreksi harga minyak mentah dunia adalah konsekuensi logis yang tetap harus diwaspadai.
Mengapa Publik Harus Peduli?
Kontras kebijakan ini memicu pertanyaan besar bagi pengamat ekonomi global:
- Standar Keamanan: Apakah cadangan 20 hari cukup kuat jika eskalasi di Timur Tengah berlangsung berbulan-bulan?
- Dampak Harga: Meskipun subsidi aman hari ini, volatilitas harga minyak mentah tetap membayangi biaya logistik dan harga barang pokok di pasar domestik.
- Kemandirian Energi: Situasi ini menjadi pengingat keras bagi setiap negara untuk segera mendiversifikasi sumber energinya agar tidak “tersandera” oleh ketegangan di satu wilayah.(pw)









