KABARIN.ID – Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus Leo XIV, secara mengejutkan melontarkan kecaman tajam terhadap retorika militer Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Paus menegaskan bahwa ancaman untuk menghancurkan seluruh peradaban Iran bukan hanya melanggar hukum internasional, tetapi merupakan sebuah “tragedi moral” yang sangat besar.
Pernyataan ini muncul menyusul ultimatum mengerikan dari Gedung Putih yang mengancam akan membom infrastruktur sipil Iran—termasuk pembangkit listrik dan jembatan—serta mengembalikan negara tersebut ke “Zaman Batu” jika kesepakatan tidak tercapai dalam hitungan jam.
Pertanyaan Moral atas Kebaikan Rakyat
Berbicara kepada wartawan di luar Roma, Paus asal Amerika tersebut tampak emosional saat menanggapi ancaman yang ditargetkan kepada rakyat Iran.
“Hari ini, ada ancaman terhadap seluruh rakyat Iran. Dan ini benar-benar tidak dapat diterima! Tentu ada masalah hukum internasional di sini, tetapi lebih dari itu, ini adalah pertanyaan moral yang menyangkut kebaikan rakyat secara keseluruhan,” tegas Paus Leo XIV dengan nada bergetar.
Infrastruktur Sipil Bukan Target Perang
Paus Leo XIV memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah tidak akan pernah menyelesaikan masalah, melainkan hanya akan menciptakan krisis energi dan ekonomi global yang menyengsarakan masyarakat bawah. Beliau secara khusus menyoroti dampak serangan terhadap warga sipil yang tidak berdaya.
“Mari kita ingat orang-orang yang tidak bersalah: anak-anak, orang tua, orang sakit. Serangan terhadap infrastruktur sipil adalah tanda kebencian dan kehancuran yang mampu dilakukan manusia. Itu bertentangan dengan hukum internasional!” tambahnya.
Konteks Ketegangan: Ultimatum Pukul 20.00
Ketegangan memuncak setelah Presiden Trump dan Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, memberikan batas waktu hingga Selasa pukul 20.00 EDT bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz secara penuh. Jika gagal, AS mengancam akan melancarkan serangan udara besar-besaran yang dapat memusnahkan peradaban Iran.
Konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu ini awalnya diklaim sebagai upaya menangani program nuklir Iran. Namun, retorika terbaru dari AS dan Israel menunjukkan agenda yang lebih luas, yakni perubahan rezim di Teheran.
Seruan untuk Meja Perundingan
Paus Leo XIV mendesak kedua belah pihak untuk segera menanggalkan senjata dan kembali ke meja perundingan. Takhta Suci menyerukan agar nurani para pemimpin dunia dikedepankan demi mencegah bencana kemanusiaan terbesar di abad ke-21.
“Peperangan ini hanya memicu perpecahan. Mari kita hentikan kehancuran ini sebelum semuanya terlambat,” tutupnya.(red)









