KABARIN.ID – Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, mengeluarkan pernyataan krusial yang menentukan arah geopolitik Semenanjung Korea dalam lima tahun ke depan. Di hadapan Kongres Partai Pekerja Korea (WPK), Kim menegaskan bahwa Pyongyang membuka pintu perbaikan hubungan dengan Amerika Serikat, namun dengan satu syarat mutlak: Washington wajib menghentikan total sikap permusuhannya.
Pesan ini disampaikan di tengah parade militer megah pada Rabu malam yang juga dihadiri oleh putri remajanya, Kim Ju Ae. Meski membuka peluang diplomasi, Kim tetap menunjukkan taringnya dengan menegaskan kesiapan tempur jika negosiasi buntu.
“Koeksistensi damai ataupun konfrontasi abadi, kita siap menghadapi segalanya. Pilihan tersebut tidak ditentukan oleh kita, tapi tergantung sikap AS,” tegas Kim sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada Kamis (26/2).
Respons Terhadap Kembalinya Donald Trump
Pernyataan Kim muncul di tengah momentum kembalinya Donald Trump ke kursi Kepresidenan AS sejak Januari tahun lalu. Trump sebelumnya telah menyatakan kesiapannya untuk merajut kembali dialog yang sempat terhenti pasca-pertemuan bersejarah 2018–2019. Namun, Kim mengingatkan bahwa tekad nuklir Pyongyang tidak akan surut selama ancaman eksternal masih ada.
“Kita memiliki tekad teguh untuk memperluas kekuatan nuklir nasional sebagai strategi deterensi (pencegahan) yang amat penting,” lanjut Kim.
Garis Merah untuk Seoul: “Musuh Abadi, Bukan Saudara Sebangsa”
Berbeda dengan nada hati-hati terhadap AS, Kim Jong Un justru menutup rapat pintu rekonsiliasi dengan Korea Selatan. Ia secara resmi menolak mengakui Seoul sebagai saudara sebangsa dan melabeli tetangganya itu sebagai “negara musuh abadi”.
Kim bahkan mencibir upaya damai Presiden Korsel, Lee Jae Myung, sebagai “lelucon yang menipu”. Ia memberi peringatan keras bahwa Korea Utara tidak akan ragu melancarkan “kehancuran total” jika keamanannya diganggu. Menanggapi hal ini, Kementerian Unifikasi di Seoul menyatakan keprihatinan mendalam namun tetap berkomitmen menjaga kesabaran demi perdamaian.
Parade Tanpa Rudal Antarbenua, Fokus pada Pasukan di Rusia
Menariknya, parade militer di Lapangan Kim Il Sung kali ini tidak memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM). Fokus justru tertuju pada keikutsertaan personel militer Korut yang dilaporkan bertugas membantu Rusia dalam perang di Ukraina, menunjukkan semakin eratnya aliansi militer Pyongyang-Moskow.
Dunia kini menanti bagaimana pemerintahan Trump di Washington akan merespons “tantangan terbuka” dari Pyongyang ini.
Sumber Berita : Kyodo









