KABARIN.ID – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto melontarkan peringatan keras bagi para pemimpin daerah: komitmen terhadap lingkungan hidup dan target emisi nol bersih (net zero emission/NZE) tidak boleh hanya menjadi formalitas di atas kertas atau sekadar acara seremonial.
Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (26/2), Bima Arya menegaskan bahwa sinkronisasi antara komitmen global, nasional, dan lokal adalah tantangan terbesar Indonesia saat ini dalam menghadapi fenomena global boiling.
“Tantangan kita itu sebetulnya menyambungkan antara komitmen global, nasional, dan lokal. That is our major challenge,” tegas Bima Arya.
Dilema Pemimpin Daerah: Antara Popularitas dan Ekologi
Mantan Wali Kota Bogor ini menyoroti hambatan riil di lapangan, di mana pemimpin daerah sering kali terjebak dilema. Mereka dihadapkan pada pilihan sulit antara mengejar popularitas serta pertumbuhan ekonomi jangka pendek dengan pemenuhan target lingkungan teknis yang bersifat jangka panjang.
Hambatan lain yang disoroti adalah sulitnya transisi ke transportasi publik listrik (EV) serta ketergantungan ekonomi banyak wilayah pada industri beremisi tinggi.
Instruksi Pusat: APBD Harus “Senapas” dengan Komitmen Hijau
Guna memutus rantai hambatan tersebut, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) telah menerbitkan instrumen penganggaran yang ketat. Salah satunya melalui Permendagri Nomor 15 Tahun 2024 yang menjadi dasar hukum bagi kepala daerah untuk mendorong investasi hijau.
“Porsi kami adalah memastikan perencanaan penganggaran di daerah itu senapas dengan komitmen global dan nasional. Ada juklak dan juknisnya untuk menjadi dasar kepala daerah mendorong inisiatif investasi hijau,” jelasnya.
Dorong Konsep Co-Creation dengan Anak Muda
Bima Arya juga mengajak daerah untuk menerapkan konsep co-creation, sebuah kolaborasi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk generasi muda. Keterlibatan anak muda dinilai krusial untuk merumuskan strategi inovatif sekaligus memperkuat pengawasan anggaran agar tepat sasaran pada program-program ekologi.
Melalui langkah ini, Kemendagri berharap inovasi berbasis ekologi yang telah dimulai oleh sejumlah daerah inspiratif dapat menular ke wilayah lain, demi mengejar target nasional NZE pada tahun 2060.(wld)









